Retak
Pada pemeriksaan menggunakan Ultrasonic Flaw Detector (UT), cacat berupa retak (crack) umumnya ditandai dengan tinggi sinyal pantulan (echo) yang besar, amplitudo gelombang yang lebar, serta sering muncul beberapa puncak pantulan (multiple peaks). Ketika probe ultrasonik digerakkan di atas permukaan benda uji, amplitudo sinyal pantulan akan berubah secara terus-menerus mengikuti bentuk dan orientasi retak.
Retak merupakan salah satu cacat paling berbahaya pada sambungan las karena dapat menurunkan kekuatan mekanis dan menjadi titik awal terjadinya kegagalan struktur. Ujung retak memiliki bentuk yang tajam sehingga menjadi pusat konsentrasi tegangan (stress concentration). Saat komponen menerima beban, daerah tersebut berpotensi berkembang menjadi patahan yang menyebabkan kerusakan serius.
Secara umum, retak pada hasil pengelasan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
- Hot Crack (Retak Panas)
- Cold Crack (Retak Dingin)
- Reheat Crack (Retak Akibat Pemanasan Ulang)
1. Hot Crack (Retak Panas)
Penyebab
Retak panas biasanya terjadi selama logam las masih berada pada suhu tinggi akibat beberapa faktor berikut:
- Pendinginan kolam las (weld pool) berlangsung terlalu cepat sehingga terjadi segregasi unsur paduan.
- Pemanasan dan pendinginan yang tidak merata sehingga menimbulkan tegangan tarik pada daerah las.
- Kandungan sulfur, fosfor, atau unsur pengotor lainnya terlalu tinggi.
Tindakan Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya hot crack dapat dilakukan langkah-langkah berikut:
- Membatasi kandungan unsur yang mudah menyebabkan segregasi, terutama sulfur (S) dan fosfor (P).
- Meningkatkan kandungan mangan (Mn) untuk mengurangi efek sulfur.
- Menggunakan elektroda atau flux dengan tingkat kebasaan (basicity) yang tinggi agar kandungan pengotor berkurang.
- Mendesain sambungan las dengan baik sehingga penyusutan logam las dapat berlangsung lebih bebas.
- Menggunakan urutan pengelasan (welding sequence) yang tepat untuk mengurangi tegangan sisa.

2. Cold Crack (Retak Dingin)
Penyebab
Cold crack biasanya muncul setelah proses pengelasan selesai dan material mulai mendingin. Penyebab utamanya meliputi:
- Material memiliki hardenability tinggi sehingga mudah membentuk struktur keras dan getas.
- Pendinginan berlangsung terlalu cepat setelah pengelasan.
- Hidrogen masuk ke dalam logam las dan terperangkap di dalam pori-pori material sehingga menimbulkan tekanan internal.
- Kombinasi tegangan sisa pengelasan, konsentrasi hidrogen, dan struktur hasil pendinginan yang keras meningkatkan risiko terbentuknya retak dingin.
Tindakan Pencegahan
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah cold crack antara lain:
- Melakukan preheating (pemanasan awal) sebelum pengelasan.
- Menerapkan slow cooling (pendinginan perlahan) setelah proses pengelasan.
- Melakukan annealing atau dehydrogenation treatment untuk menghilangkan tegangan sisa serta mempercepat difusi hidrogen keluar dari logam.
- Menggunakan elektroda low hydrogen, flux basa, atau kawat las stainless steel austenitik sesuai kebutuhan aplikasi.
- Mengeringkan elektroda dan flux sesuai rekomendasi pabrikan sebelum digunakan.
- Membersihkan kampuh las (groove) dan permukaan benda kerja dari minyak, karat, air, dan kontaminan lainnya.
- Menentukan parameter pengelasan dan urutan pengelasan yang tepat untuk meminimalkan tegangan sisa.
Rekomendasi alat Retak (Crack): TUD290

Portable Ultrasonic Flaw Detector TUD290 adalah alat uji cacat ultrasonik portabel yang dirancang untuk mendeteksi cacat internal material secara cepat, akurat, dan andal. Dilengkapi layar VGA berwarna serta akurasi pengukuran yang tinggi, alat ini ideal untuk inspeksi non-destruktif (NDT) dan Quality Control (QC) di industri manufaktur, konstruksi, minyak dan gas, petrokimia, serta fabrikasi logam.
Kesimpulan
Retak (crack) merupakan salah satu cacat pengelasan yang paling kritis karena dapat menjadi titik awal kegagalan struktur akibat konsentrasi tegangan. Melalui inspeksi menggunakan Ultrasonic Flaw Detector, retak dapat dideteksi berdasarkan karakteristik sinyal pantulannya, sehingga lokasi dan tingkat keparahannya dapat dianalisis tanpa merusak komponen. Pencegahan retak memerlukan kombinasi pemilihan material yang tepat, pengendalian parameter pengelasan, penggunaan elektroda yang sesuai, serta perlakuan panas sebelum dan sesudah pengelasan. Dengan menerapkan prosedur tersebut, kualitas sambungan las dapat ditingkatkan, risiko kegagalan struktur dapat diminimalkan, dan keandalan komponen dalam jangka panjang dapat terjamin.

