Proyek Ekspansi Neste Singapura adalah investasi senilai €1,5 miliar oleh penyedia solusi terbarukan Neste untuk meningkatkan kapasitas produksi produk terbarukan.
Tantangan
Proyek Ekspansi Neste Singapura adalah investasi senilai €1,5 miliar oleh penyedia solusi terbarukan Neste untuk meningkatkan kapasitas produksi produk terbarukan. Fase konstruksi proyek ini, yang dimulai pada awal 2019, diperkirakan memakan waktu empat tahun. Setelah selesai, proyek ini akan memfasilitasi tambahan kapasitas satu juta ton bagi kilang Neste Singapura untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan bahan baku terbarukan untuk polimer dan bahan kimia.
Tantangan utamanya adalah membantu memenuhi persyaratan keselamatan situs dengan memasang sistem akuisisi data yang efisien untuk memantau jaringan strain gauge (pengukur regangan) yang ditempatkan secara strategis di area seluas sekitar 1.800 meter persegi. Strain gauge ini memantau beban dari penyangga (struts) yang dipasang di lokasi penggalian, memperingatkan personel situs tentang potensi keanehan atau titik kritis berisiko tinggi.

Solusi
Penerapan strain gauge (pengukur regangan) di lokasi proyek dirancang oleh penyedia solusi teknik geoteknik Kimaro. Untuk memantau strain gauge ini dengan aman, Kimaro—dengan dukungan dan pelatihan dari penyedia layanan instrumentasi geoteknik CEP—memasang solusi akuisisi data nirkabel Ackcio Beam di lokasi.
Sistem Ackcio Beam ini, yang telah beroperasi sejak November 2020, terdiri dari 10 Ackcio Vibrating Wire Nodes (BEAM-VW-S8) yang memantau 80 strain gauge pada frekuensi yang dipersyaratkan yaitu sekali setiap jam.
Setelah dipasang dan diresmikan, Ackcio Gateways (BEAM-GW) dan Vibrating Wire Nodes saling terhubung dalam jaringan Ackcio Mesh, memberikan sejumlah manfaat krusial bagi proses pemantauan.
Transmisi jarak jauh mudah diskalakan dengan beberapa hop. Teknologi Ackcio Mesh yang dipatenkan bersifat dapat memperbaiki diri sendiri (self-healing), sehingga secara signifikan mengurangi kemungkinan adanya blank spot atau kegagalan komunikasi di lokasi. Hal ini menghasilkan peningkatan keandalan transfer data sensor dan pada akhirnya menciptakan lokasi kerja yang lebih aman.

Seiring berjalannya konstruksi situs ini, lebih banyak sensor termasuk strain gauge akan ditambahkan dan memerlukan pemantauan. Untuk itu, sistem Ackcio Beam sangat mudah diskalakan serta mampu terhubung dan mentransmisikan data dari sensor baru seiring dengan pemasangannya.
Konektivitas nirkabel dari sistem Ackcio Beam menghilangkan kebutuhan untuk memantau strain gauge menggunakan kabel, yang seharusnya membentang luas di situs ini serta jauh lebih mahal untuk diterapkan dan dipelihara, terutama saat jaringan sensor terus berkembang. Hal ini menghasilkan peningkatan efisiensi operasional situs secara signifikan, mengurangi biaya tenaga kerja pemantauan sebesar 40% dan menghemat lebih dari S$500.000 selama durasi proyek.
Yang terpenting, kemampuan pemantauan real-time dari Ackcio Beam telah meningkatkan produktivitas dan efisiensi keseluruhan situs secara signifikan, memastikan proyek tetap berjalan lancar sekaligus mengoptimalkan keselamatan bagi semua pekerja di lokasi.
Rekomendasi alat Pemantauan Area Luas Proyek: Gateway Ackcio BEAM-GW

Ackcio Gateway merupakan perangkat utama (master device) yang mengoordinasikan seluruh sistem akuisisi data Ackcio Beam.
Gateway menerima data sensor dari berbagai Node, kemudian meneruskannya ke platform perangkat lunak eksternal pilihan pengguna untuk menganalisis, mengelola, dan merekam data sensor. Gateway juga mendukung komunikasi dua arah, sehingga pengguna dapat mengirimkan pesan konfigurasi ke Node, seperti pembaruan frekuensi pengambilan sampel (sampling frequency), tanpa perlu mengakses Node secara langsung.
Kesimpulan
Penggunaan sistem akuisisi data nirkabel Ackcio Beam dalam Proyek Ekspansi Neste Singapura berhasil mengatasi tantangan pemantauan beban struktural secara efisien dan aman. Solusi jaringan mesh yang dapat diskalakan dan self-healing ini tidak hanya menghilangkan kebutuhan kabel yang rumit dan mahal, tetapi juga memangkas biaya tenaga kerja hingga 40% (menghemat lebih dari S$500.000), sekaligus memastikan keselamatan kerja yang optimal dan kelancaran operasional konstruksi secara real-time.

