Soluble salts left on a surface before coating are a leading cause of premature coating failure. Although these contaminants are often invisible, they can significantly reduce coating life and increase maintenance costs.
These salts attract moisture, promote underfilm corrosion, and can cause blistering or loss of adhesion after painting. Because common surface preparation methods, such as abrasive blasting or power-tool cleaning, do not reliably remove soluble salts, verification prior to coating is often critical to long-term coating performance.
Why Soluble Salt Numbers Cause Confusion
Three different inspectors test the same blasted steel surface using the Bresle method. One reports 22 µS/cm, another reports 28 mg/m2, the third reports 2.5 µg/cm2. All three believe the surface is acceptable. Which one is correct?
Situations like this are common because soluble salt testing is often misunderstood. The Bresle method does not directly measure the amount of salt on a surface, it only instructs inspectors in a method to collect samples from the surface. Other standards and calculations must be followed to return meaningful results from these samples.
To add to the confusion, some test methods measure the concentration of individual salt ions on a surface. While these methods are also testing for surface contamination, they are reporting a completely different value, and cannot be compared directly to the results of a conductivity test.
To ensure consistent and meaningful results it is important that all parties involved understand the relevant standards, the units being used in a specification, and the best practices for measuring and reporting soluble salts.
ISO 8502-6 and ISO 8502-9—What They Actually Do
ISO 8502-6 and ISO 8502-9 work together to provide a standardized, repeatable method for assessing soluble salt contamination on steel surfaces prior to coating. For more information on how to use these methods, read the article Measuring Soluble Salts in Accordance with ISO 8502-6 and ISO 8502-9—the Bresle Method.
ISO 8502-6—Extraction Method
ISO 8502-6 specifies how soluble salts are removed from the surface. A defined volume of deionized water is placed in contact with a known surface area, using a patch or cell, to dissolve water-soluble contaminants.
The deionized water is drawn in and out of the patch, and then left for a specified dwell time, before being removed for testing.
The DeFelsko PosiPatch, Adhesive Patch, and the Latex Adhesive Patch all conform to ISO 8502-6.

ISO 8502-9 — Metode Analisis
ISO 8502-9 menetapkan metode untuk mengevaluasi larutan hasil ekstraksi. Konduktivitas larutan diukur menggunakan alat ukur konduktivitas dengan kompensasi suhu.
Kepadatan permukaan garam (surface density of salt) dihitung berdasarkan nilai konduktivitas yang diketahui dari berbagai jenis garam, volume air yang digunakan selama pengujian, serta luas permukaan yang bersentuhan dengan air.
Probe PosiTector SST yang dapat diganti memenuhi persyaratan ISO 8502-9 dan memandu pengguna dalam melakukan pengujian sesuai metode ISO 8502-6 dan ISO 8502-9.
Ringkasan: ISO 8502-6 menetapkan cara mengekstraksi garam dari permukaan, sedangkan ISO 8502-9 menetapkan cara mengonversi nilai konduktivitas menjadi nilai kontaminasi permukaan yang dapat dibandingkan.
Bagaimana ISO 8502-9 Menentukan Jenis Garam pada Permukaan?
Garam merupakan kelompok senyawa kimia alami yang memiliki berbagai sifat dan nilai konduktivitas. Permukaan yang akan dilapisi coating biasanya mengandung campuran berbagai jenis garam, yang masing-masing dapat memberikan pengaruh berbeda terhadap konduktivitas.
Metode yang ditetapkan dalam ISO 8502-6 dan ISO 8502-9 tidak mengidentifikasi komposisi spesifik garam yang terdapat pada permukaan. Sebaliknya, perhitungan menggunakan asumsi profil kontaminasi berdasarkan air laut.
Åke Bresle, yang menjadi nama metode ini, mengusulkan penggunaan konstanta konduktivitas sebesar 5 kg·m⁻²·S⁻¹. Nilai tersebut diperoleh dari hubungan antara konduktivitas dan jumlah total garam terlarut dalam air laut, yang digunakan sebagai model referensi untuk kontaminasi garam larut pada permukaan.
Karena residu dari air laut serta garam yang berasal dari jalan dan lingkungan pesisir merupakan sumber kontaminasi yang umum, asumsi ini tetap relevan untuk sebagian besar aplikasi industri.
Konstanta lain juga pernah diusulkan berdasarkan asumsi bahwa permukaan hanya mengandung satu jenis garam, seperti NaCl, atau ion tertentu seperti Cl⁻. Namun, nilai alternatif tersebut biasanya digunakan untuk aplikasi atau tujuan perbandingan tertentu. Untuk persiapan permukaan industri secara umum, ISO 8502-9 menggunakan konstanta 5 kg·m⁻²·S⁻¹.
Apakah Jenis Ion Garam Spesifik Berpengaruh?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami sumber kontaminasi garam. Pada sebagian besar proyek coating, komposisi ion tertentu tidak menjadi masalah utama karena sumber kontaminasinya relatif konsisten.
Sebagian besar kontaminasi garam larut pada struktur baja berasal dari dua sumber utama:
- Lingkungan laut dan udara pesisir – Garam yang terbawa udara dari laut dapat terbawa hingga jauh ke wilayah daratan.
- Garam untuk pencair es (de-icing salts) – Jalan dan jembatan di daerah tertentu sering menggunakan garam batu untuk mencairkan es.
Kedua sumber tersebut menghasilkan campuran garam yang umumnya didominasi oleh Sodium Chloride (NaCl). Oleh karena itu, komposisi ion pada permukaan baja umumnya menyerupai campuran garam yang terdapat dalam air laut.
Konsistensi inilah yang menjadi salah satu dasar mengapa perhitungan ISO 8502-9 dapat digunakan. Metode tersebut menggunakan asumsi campuran garam “standar” berdasarkan air laut yang mewakili kondisi pada sebagian besar proyek pengecatan dan perlindungan permukaan baja.
Namun, terdapat beberapa kondisi khusus ketika sumber kontaminasi tidak sesuai dengan profil tersebut. Dalam situasi ini, pengujian berbasis konduktivitas secara umum dapat memberikan hasil yang menyesatkan.
Sebagai contoh, struktur yang berada di dekat pembangkit listrik tenaga batu bara atau fasilitas pengolahan bahan kimia dapat mengalami kontaminasi yang lebih banyak mengandung sulfat atau nitrat, bukan hanya klorida.
Selain itu, jika permukaan dibersihkan menggunakan cleaner atau inhibitor karat dengan konduktivitas tinggi, pengujian konduktivitas dapat menunjukkan hasil yang melebihi batas (fail). Padahal, hasil tersebut mungkin disebabkan oleh residu bahan pembersih, bukan oleh kontaminasi garam korosif yang berbahaya.

Apakah Ion Tertentu Meningkatkan Risiko Kegagalan Coating?
Meskipun jenis ion memiliki peran penting dalam korosi secara kimia, konsentrasi total garam lebih berpengaruh terhadap terjadinya blistering atau penggelembungan coating secara fisik.
Serangan Kimia (Korosi)
Ion tertentu dapat menyerang baja dengan tingkat agresivitas yang berbeda. Ion klorida (Cl⁻) berukuran kecil dan sangat mudah bergerak sehingga dapat menembus lapisan oksida pasif pada baja dan menyebabkan korosi sumuran (pitting corrosion) yang cepat.
Sementara itu, sulfat, yang umum ditemukan di kawasan industri, dapat bereaksi dengan baja dan membentuk produk korosi yang mengembang. Tekanan dari produk korosi tersebut dapat menyebabkan coating retak atau terkelupas dari bagian bawah.
Dari perspektif korosi, jumlah tertentu ion klorida dapat memberikan risiko yang lebih besar terhadap baja dibandingkan jumlah yang sama dari garam yang kurang agresif, seperti karbonat.
Serangan Fisik (Osmotic Blistering)
Sebaliknya, osmotic blistering lebih dipengaruhi oleh konsentrasi garam, bukan jenis kimianya.
Garam larut yang tertinggal di bawah lapisan coating bersifat higroskopis, sehingga dapat menarik kelembapan melalui lapisan coating yang bersifat semi-permeabel melalui proses osmosis.
Besarnya tarikan tersebut atau tekanan osmotik ditentukan oleh konsentrasi partikel terlarut, terlepas dari jenis ion spesifik yang terdapat di dalamnya.
Oleh karena itu, nilai konduktivitas yang tinggi menunjukkan konsentrasi garam terlarut yang tinggi dan risiko blistering yang lebih besar, bahkan ketika ion yang terdapat pada permukaan tidak terlalu agresif secara kimia.
Konduktivitas Total sebagai Pengaman
Karena osmotic blistering dipengaruhi oleh konsentrasi total garam, metode ISO 8502-9 merupakan metode yang efektif untuk memperkirakan risiko blistering tanpa harus mengetahui jenis garam secara spesifik.
Selain itu, metode ini juga memberikan tingkat keamanan konservatif terhadap korosi. Jika surface density atau kepadatan permukaan garam yang dihitung cukup rendah untuk memenuhi spesifikasi yang ketat, misalnya < 20 mg/m², maka konsentrasi masing-masing ion agresif tentunya akan lebih rendah lagi.
Dengan membatasi jumlah total garam larut, standar ini secara efektif membantu membatasi keberadaan ion agresif tanpa memerlukan analisis kimia yang kompleks, mahal, dan membutuhkan waktu lama di lapangan.
Pendekatan catch-all ini memastikan bahwa ketika suatu permukaan lulus pengujian Bresle, permukaan tersebut secara umum berada dalam kondisi yang aman untuk aplikasi coating, selama persyaratan proyek yang berlaku telah terpenuhi.
Memahami Satuan Pelaporan Hasil Pengujian
Hasil pengujian garam larut umumnya dilaporkan dalam salah satu dari tiga bentuk berikut:
- µS/cm – nilai konduktivitas larutan hasil ekstraksi.
- mg/m² atau µg/cm² – kepadatan permukaan (surface density) garam larut yang telah dihitung.
- ppm – parts per million, yaitu konsentrasi ion tertentu dalam larutan.
Spesifikasi proyek biasanya menetapkan batas penerimaan (acceptance criteria) menggunakan salah satu satuan tersebut. Oleh karena itu, memahami arti masing-masing satuan serta mengetahui konversi mana yang dapat dilakukan sangat penting untuk menginterpretasikan dan melaporkan hasil pengujian garam larut dengan benar.
Konduktivitas sebagai Hasil Pengukuran Bresle

Konduktivitas merupakan salah satu nilai paling sederhana untuk dilaporkan ketika melakukan pengujian menggunakan metode Bresle.
Setelah proses ekstraksi dilakukan sesuai ISO 8502-6, cairan hasil ekstraksi dapat diukur menggunakan conductivity meter, dengan hasil biasanya dinyatakan dalam µS/cm atau satuan konduktivitas yang setara.
Namun, spesifikasi proyek lebih sering menetapkan batas maksimum konsentrasi garam yang diperbolehkan pada permukaan, yang dinyatakan dalam satuan surface density.
Konversi dari nilai konduktivitas menjadi surface density memerlukan perhitungan yang mempertimbangkan:
- Volume larutan ekstraksi
- Luas area permukaan yang diuji
- Nilai konduktivitas garam yang terdapat pada permukaan
Catatan Penting tentang Pengujian Ion Spesifik
Beberapa spesifikasi proyek mengharuskan pengukuran ion tertentu, misalnya konsentrasi klorida (Cl⁻) dalam ppm.
Nilai konsentrasi ion spesifik tidak dapat dihitung secara langsung dari hasil pengukuran konduktivitas. Untuk menentukan konsentrasi ion tertentu, diperlukan metode pengujian atau analisis kimia lain yang sesuai.
Dengan demikian, uji konduktivitas metode Bresle dapat digunakan untuk mengevaluasi total kontaminasi garam larut pada permukaan, sedangkan pengujian ion spesifik diperlukan apabila spesifikasi proyek secara khusus mensyaratkan batas untuk jenis ion tertentu.
Mengonversi Konduktivitas Menjadi Kepadatan Garam

Menghitung Kepadatan Permukaan Garam Larut
Untuk menghitung kepadatan permukaan garam larut (ρA) dalam satuan mg/m², ISO 8502-9 menggunakan persamaan berikut:
ρA = c × 10² × V × Δγ / A
Keterangan:
- ρA = kepadatan permukaan garam larut, dalam mg/m²
- c = konstanta yang berkaitan dengan konduktivitas garam pada permukaan
- V = volume air yang digunakan untuk ekstraksi, dalam mL
- Δγ = perubahan konduktivitas larutan hasil ekstraksi, dalam µS/cm
- A = luas permukaan yang bersentuhan dengan larutan ekstraksi, dalam mm²
Dua parameter dalam persamaan, yaitu V (volume ekstraksi) dan A (luas area pengujian), diperoleh berdasarkan prosedur pengujian dan alat yang digunakan. Nilainya dapat berbeda tergantung pada produsen dan model alat uji.
Sementara itu, nilai Δγ diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan conductivity meter setelah proses ekstraksi garam dari permukaan selesai dilakukan.
Konstanta Garam pada ISO 8502-9
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, konstanta c didasarkan pada asumsi mengenai karakteristik garam yang terdapat pada permukaan yang diuji.
ISO 8502-9 merekomendasikan nilai 5 kg·m⁻²·S⁻¹ untuk mewakili campuran garam standar yang umum ditemukan pada permukaan industri.
Dengan menggunakan parameter dan konstanta yang sesuai, nilai konduktivitas hasil pengujian dapat dikonversi menjadi kepadatan permukaan garam larut (mg/m²). Nilai tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan batas kontaminasi garam yang ditetapkan dalam spesifikasi proyek sebelum aplikasi coating.

Contoh Perhitungan
Data Pengujian
- Hasil Pengukuran Konduktivitas (Δγ): 20 µS/cm
- Volume Ekstraksi (V): 3 mL
- Luas Area Pengujian (A): 12,5 cm² = 1.250 mm²
Asumsi
- Konstanta Konduktivitas Ion (c): 5 kg·m⁻²·S⁻¹
Menerapkan Rumus
Rumus kepadatan permukaan garam:
ρA = (c × 10² × V × Δγ) / A
Dengan memasukkan data pengujian:
ρA = (5 × 100 × 3 × 20) / 1.250
ρA = 30.000 / 1.250
ρA = 24 mg/m²
Interpretasi Hasil
Hasil pengujian menunjukkan kepadatan permukaan garam sebesar 24 mg/m².
- Jika spesifikasi proyek menetapkan batas maksimum 50 mg/m² sebelum aplikasi coating, maka permukaan memenuhi persyaratan (lulus).
- Jika spesifikasi proyek menetapkan batas maksimum 20 mg/m², maka permukaan tidak memenuhi persyaratan (gagal) dan perlu dilakukan tindakan perbaikan, seperti pembersihan ulang permukaan, sebelum coating diaplikasikan.

Catatan
Conductivity meter modern yang dirancang untuk pengujian metode Bresle, seperti PosiTector SST, dapat melakukan perhitungan tersebut secara otomatis. Pengguna cukup memasukkan volume cairan ekstraksi, luas area pengujian, dan jenis garam yang diasumsikan saat melakukan pengaturan. Setelah pengujian selesai, alat dapat langsung menampilkan nilai konduktivitas (µS/cm) dan kepadatan garam (mg/m² atau µg/cm²).
Kepadatan permukaan garam larut umumnya ditentukan dan dilaporkan menggunakan dua satuan, yaitu mg/m² dan µg/cm². Keduanya sama-sama menunjukkan massa garam per satuan luas, tetapi menggunakan skala yang berbeda. Seperti halnya meter dan sentimeter, kedua satuan ini dapat dikonversi dengan faktor sederhana.
Konversi mg/m² dan µg/cm²
Untuk mengonversi kedua satuan tersebut:
- mg/m² → µg/cm²: bagi dengan 10 atau kalikan 0,1
- µg/cm² → mg/m²: kalikan dengan 10
Berdasarkan contoh perhitungan sebelumnya, hasil pengujian adalah 24 mg/m². Jika hasil tersebut perlu dilaporkan dalam satuan µg/cm², cukup bagi dengan 10:
24 mg/m² ÷ 10 = 2,4 µg/cm²
Jadi, hasil akhirnya adalah 2,4 µg/cm².
Mengapa Konversi Satuan Penting?

Ingat kembali tiga inspector yang melakukan pengujian pada permukaan yang sama. Masing-masing menganggap permukaan memenuhi spesifikasi, tetapi mereka melaporkan hasil menggunakan satuan yang berbeda:
- Inspector 1: 22 µS/cm
- Inspector 2: 28 mg/m²
- Inspector 3: 2,5 µg/cm²
Dengan memahami ketiga satuan tersebut, kita dapat melakukan konversi sehingga hasil pengujian lebih mudah dibandingkan.
Setelah dikonfirmasi bahwa inspector pertama menggunakan 3 mL cairan ekstraksi dan test cell dengan luas 1.250 mm², hasilnya dapat dihitung menjadi 26,4 mg/m².
Untuk hasil inspector ketiga, kita dapat mengalikan nilainya dengan 10:
2,5 µg/cm² × 10 = 25 mg/m²
Sekarang ketiga hasil telah menggunakan satuan yang sama:
- 26,4 mg/m²
- 28 mg/m²
- 25 mg/m²
Ketiga hasil tersebut masih berada dalam variasi pengukuran yang wajar. Jika dibandingkan dengan spesifikasi proyek yang menetapkan batas maksimum 50 mg/m², ketiga inspector dapat menyimpulkan bahwa permukaan memenuhi persyaratan dan siap untuk aplikasi coating.
Faktor Penting Lain yang Perlu Diperhatikan
Selain metode pengujian dan perhitungan, terdapat beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi hasil pengujian garam larut. Inspector perlu memahami bagaimana faktor-faktor tersebut memengaruhi hasil pengukuran, menjaga konsistensi antara setiap pengujian, serta mencatat dan melaporkan setiap penyimpangan dari prosedur standar.
Konsistensi dalam volume cairan ekstraksi, luas area pengujian, waktu ekstraksi, kondisi permukaan, suhu, kebersihan alat, dan prosedur pengukuran sangat penting untuk mendapatkan hasil uji yang dapat diandalkan dan dapat dibandingkan.

Blank Test (Uji Blanko)
Langkah pertama dalam melakukan pengujian garam larut dengan metode Bresle adalah melakukan blank test atau pengukuran latar belakang. Pengujian ini bertujuan untuk mengoreksi kontaminasi yang mungkin berasal dari air atau peralatan pengujian, bukan dari permukaan yang diuji.
Sesuai petunjuk produsen alat, ukur konduktivitas air deionisasi (DI water) yang akan digunakan sebelum pengujian dimulai. Catat hasil pengukuran tersebut sebagai nilai blank test.
Nilai blank test kemudian dikurangkan dari hasil konduktivitas akhir untuk mendapatkan perubahan konduktivitas (Δγ) akibat kontak air dengan permukaan yang diuji.
Δγ = Konduktivitas setelah pengujian − Konduktivitas blank test
Sebagai panduan umum, hasil blank test ≤ 5 µS/cm biasanya masih dapat diterima untuk pengujian. Jika hasilnya lebih tinggi, bilas conductivity meter dan peralatan pengujian menggunakan air deionisasi, atau gunakan botol air deionisasi yang baru.

Dwell Time (Waktu Kontak)
Lamanya air berada dalam kontak dengan permukaan dapat memengaruhi jumlah dan jenis garam yang berhasil diekstraksi selama pengujian. Sebagian besar produsen alat biasanya merekomendasikan waktu kontak sekitar 2 menit sebagai keseimbangan yang baik antara kepraktisan dan efektivitas ekstraksi.
Namun, setiap standar dapat memberikan rekomendasi yang berbeda mengenai waktu yang diperlukan untuk ekstraksi garam larut. ISO 8502-6 secara historis tidak menetapkan waktu kontak tertentu. Dalam revisi tahun 2020, standar tersebut menetapkan waktu kontak minimal 10 menit. Sementara itu, standar internasional lainnya, seperti SSPC Guide 15, dapat merekomendasikan waktu kontak yang lebih singkat, yaitu sekitar 90 detik.
Hal terpenting adalah menggunakan waktu kontak yang sama untuk pengujian berulang dan hanya membandingkan hasil dari pengujian yang dilakukan dengan waktu kontak yang serupa.
Sebelum melakukan pengujian, periksa spesifikasi proyek atau standar yang digunakan untuk menentukan apakah terdapat persyaratan waktu kontak tertentu. Jika beberapa inspector akan melakukan dan membandingkan hasil pengujian, sebaiknya sepakati waktu kontak yang akan digunakan sebelum pengujian dimulai.
Catatan: Untuk memastikan kepatuhan terhadap standar, selalu ikuti edisi standar dan spesifikasi proyek yang berlaku. Jangan hanya mengandalkan waktu kontak yang direkomendasikan oleh produsen alat.
Acceptance Criteria (Kriteria Penerimaan)
Setelah pengujian dilakukan dengan benar dan kepadatan permukaan garam telah dihitung, hasilnya harus dibandingkan dengan kriteria penerimaan yang berlaku.
ISO 8502-6 dan ISO 8502-9 tidak menetapkan batas maksimum garam yang dapat diterima pada suatu permukaan. Batas tersebut ditentukan berdasarkan spesifikasi proyek atau persyaratan performa sistem coating yang akan digunakan.
Dengan demikian, tidak ada satu batas universal lulus/gagal untuk kontaminasi garam larut. Tingkat garam yang masih dapat diterima bergantung pada kondisi aplikasi dan persyaratan proyek.
Faktor yang Menentukan Batas Garam yang Dapat Diterima
Beberapa faktor utama yang perlu dipertimbangkan meliputi:
- Lingkungan penggunaan (service environment) – Kondisi atmosfer, lingkungan laut, area industri, atau lingkungan immersion dapat memiliki persyaratan berbeda.
- Sistem coating – Jenis coating dan sistem perlindungan yang digunakan dapat menentukan tingkat kontaminasi garam yang masih dapat diterima.
- Metode persiapan permukaan – Metode pembersihan dan persiapan permukaan dapat memengaruhi tingkat garam yang tersisa.
- Spesifikasi proyek – Dokumen kontrak atau spesifikasi teknis proyek merupakan acuan utama dalam menentukan batas penerimaan.
Standar pengujian sengaja tidak menetapkan satu nilai ambang yang berlaku untuk semua kondisi. Batas penerimaan harus ditentukan berdasarkan spesifikasi proyek, sistem coating, dan kebutuhan performa lapisan pelindung.
Intinya: Hasil uji garam larut tidak boleh dinyatakan pass atau fail hanya berdasarkan angka tertentu tanpa melihat batas penerimaan yang ditetapkan dalam spesifikasi proyek.

Contoh ilustrasi saja. Selalu verifikasi persyaratan spesifik proyek berdasarkan dokumen kontrak terbaru dan lembar data teknis (TDS) dari produsen coating sebelum pekerjaan dilanjutkan.
Batas Tipikal Berdasarkan Standar Industri
| Standar / Aplikasi | Kondisi | Batas Tipikal |
|---|---|---|
| IMO PSPC | Water Ballast Tanks – New Construction | 50 mg/m² (5 µg/cm²) |
| ISO 12944-9 | Offshore & Marine – Lingkungan C5/CX | 20 mg/m² (2 µg/cm²) |
| Oil & Gas (mis. Aramco) | Critical Immersion / Lining Service | 20 mg/m² (2 µg/cm²) |
| Oil & Gas (mis. Aramco) | Non-Immersion / Atmospheric | 50 mg/m² (5 µg/cm²) |
| General Industrial | Mild Atmospheric – C1–C3 | 80–100 mg/m² (8–10 µg/cm²) |
Catatan penting: Nilai di atas hanya merupakan contoh batas yang umum digunakan dan bukan batas universal untuk semua proyek. Persyaratan aktual dapat berbeda berdasarkan edisi standar, spesifikasi proyek, sistem coating, kondisi lingkungan, dan persyaratan pemilik proyek.
Rekomendasi Alat Uji Garam: PosiTector SST Soluble Salt Tester

PosiTector SST adalah alat uji garam terlarut (soluble salt tester) digital profesional yang dirancang untuk mengukur konsentrasi kontaminasi garam terlarut pada permukaan logam sesuai dengan standar ISO 8502-6 dan ISO 8502-9 (Metode Bresle). Dilengkapi probe konduktivitas khusus untuk memastikan keakuratan hasil pengujian sebelum proses pelapisan.
Kesimpulan
Menginterpretasikan hasil uji garam larut memerlukan pemahaman mengenai apa yang sebenarnya diukur oleh metode pengujian, bagaimana hasilnya dihitung, dan bagaimana hasil tersebut dilaporkan.
Metode Bresle mengukur konduktivitas listrik larutan hasil ekstraksi, bukan secara langsung mengukur massa atau komposisi garam yang terdapat pada permukaan. Nilai konduktivitas tersebut kemudian dikonversi menjadi kepadatan permukaan garam (surface density) dengan mempertimbangkan volume cairan ekstraksi, luas area pengujian, serta konstanta konduktivitas yang diasumsikan berdasarkan campuran garam yang umum ditemukan pada permukaan.
Apabila hasil pengujian telah:
- dinormalisasi terhadap suhu,
- dikoreksi menggunakan blank test yang bersih,
- dilakukan dengan prosedur dan waktu kontak (dwell time) yang konsisten,
- serta dilaporkan menggunakan satuan yang benar,
maka hasil tersebut dapat menjadi indikator yang andal dan dapat diulang untuk mengevaluasi kontaminasi garam larut pada permukaan.
Dengan menginterpretasikan hasil berdasarkan spesifikasi proyek yang berlaku, inspector, specifier, dan pemilik proyek dapat membuat keputusan lulus atau gagal (pass/fail) secara lebih tepat sebelum aplikasi coating dilakukan.
Intinya, pengujian garam larut bukan sekadar mendapatkan angka konduktivitas. Hasil harus diperoleh melalui prosedur yang benar, dihitung dengan tepat, menggunakan satuan yang sesuai, dan dibandingkan dengan batas penerimaan yang ditetapkan untuk proyek tersebut.

